FRAKTUR BASIS KRANII PDF

Berdasarkan Morfologi Cedera yang hanya mengenai kulit kepala. Cedera kulit kepala dapat menjadi pintu masuk infeksi intrakranial. Fraktur Tengkorak Fraktur yang terjadi pada tulang tengkorak. Fraktur basis cranii secara anatomis ada perbedaan struktur didaerah basis cranii dan kalvaria yang meliputi pada basis caranii tulangnya lebih tipis dibandingkan daerah kalvaria, durameter daerah basis lebih tipis dibandingkan daerah kalvaria, durameter daerah basis lebih melekat erat pada tulang dibandingkan daerah kalvaria. Sedangkan penanganan dari fraktur basis cranii meliputi : 1.

Author:Samuro JoJozahn
Country:Azerbaijan
Language:English (Spanish)
Genre:Automotive
Published (Last):18 March 2010
Pages:29
PDF File Size:14.27 Mb
ePub File Size:13.81 Mb
ISBN:653-9-42676-153-9
Downloads:5575
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zulkirg



Berisi tentang info singkat kesehatan yang mungkin bermanfaat bagi kita semua Pendahuluan Cedera kepala adalah penyebab utama kematian, dan kecacatan. Manfaat dari kepala, termasuk tengkorak dan wajah adalah untuk melindungi otak terhadap cedera. Selain perlindungan oleh tulang, otak juga tertutup lapisan keras yang disebut meninges fibrosa dan terdapat cairan yang disebut cerebrospinal fuild CSF.

Trauma tersebut berpotensi menyebabkan fraktur tulang tengkorang, perdarahan di ruang sekitar otak, memar pada jaringan otak, atau kerusakan hubungan antar nervus pada otak. Dalam beberapa studi telah terbukti fraktur basis cranii dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme termaksud ruda paksa akibat fraktur maksilofacial, ruda paksa dari arah lateral cranial dan dari arah kubah cranial, atau karena beban inersia oleh kepala.

Pasien dengan fraktur basis cranii fraktur pertrous os temporal dijumpai dengan otorrhea dan memar pada mastoids battle sign. Presentasi dengan fraktur basis cranii fossa anterior adalah dengan Rhinorrhea dan memar di sekitar palpebra raccoon eyes. Kehilangan kesadaran dan Glasgow Coma Scale dapat bervariasi, tergantung pada kondisi patologis intrakranial. Untuk penegakan diagnosis fraktur basis cranii, diawali dengan pemeriksaan neurologis lengkap, analisis laboratorium dasar, diagnostic untuk fraktur dengan pemeriksaan radiologik.

Penanganan korban dengan cedera kepala diawali dengan memastikan bahwa airway, breathing, circulation bebas dan aman. Banyak korban cedera kepala disertai dengan multiple trauma dan penanganan pada pasien tersebut tidak menempatkan penanganan kepala menjadi prioritas, resusisati awal dilakukan secara menyeluruh. Anatomi Basis Cranii Tulang tengkorak terdiri dari kubah kalvaria dan basis kranii.

Tulang tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan oksipital. Kalvaria khususnya di regio temporal adalah tipis, namun di sini dilapisi oleh otot temporalis. Basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fossa cranii anterior, fossa cranii media dan fossa cranii posterior.

Fossa crania anterior menampung lobus frontal cerebri, dibatasi di anterior oleh permukaan dalam os frontale, batas superior adalah ala minor ossis spenoidalis. Dasar fossa dibentuk oleh pars orbitalis ossis frontale di lateral dan oleh lamina cribiformis os etmoidalis di medial.

Permukaan atas lamina cribiformis menyokong bulbus olfaktorius, dan lubung lubang halus pada lamini cribrosa dilalui oleh nervus olfaktorius. Pada fraktur fossa cranii anterior, lamina cribrosa os etmoidalis dapat cedera. Keadaan ini dapat menyebabkan robeknya meningeal yang menutupi mukoperiostium. Pasien dapat mengalami epistaksis dan terjadi rhinnore atau kebocoran CSF yang merembes ke dalam hidung. Fraktur yang mengenai pars orbita os frontal mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva raccoon eyes atau periorbital ekimosis yang merupakan salah satu tanda klinis dari fraktur basis cranii fossa anterior.

Fossa cranii media terdiri dari bagian medial yang dibentuk oleh corpus os sphenoidalis dan bagian lateral yang luas membentuk cekungan kanan dan kiri yang menampung lobus temporalis cerebri. Di anterior dibatasi oleh ala minor os sphenoidalis dan terdapat canalis opticus yang dilalui oleh n. Dilateral terdapat pars squamous pars os temporal.

Fissura orbitalis superior, yang merupakan celah antara ala mayor dan minor os sphenoidalis dilalui oleh n. Fraktur pada basis cranii fossa media sering terjadi, karena daerah ini merupakan tempat yang paling lemah dari basis cranii. Secara anatomi kelemahan ini disebabkan oleh banyak nya foramen dan canalis di daerah ini.

Cavum timpani dan sinus sphenoidalis merupakan daerah yang paling sering terkena cedera. Bocornya CSF dan keluarnya darah dari canalis acusticus externus sering terjadi otorrhea. Fossa cranii posterior menampung otak otak belakang, yaitu cerebellum, pons dan medulla oblongata. Di anterior fossa di batasi oleh pinggi superior pars petrosa os temporal dab di posterior dibatasi oleh permukaan dalam pars squamosa os occipital. Dasar fossa cranii posterior dibentuk oleh pars basilaris, condylaris, dan squamosa os occipital dan pars mastoiddeus os temporal.

Foramen magnum menempati daerah pusat dari dasar fossa dan dilalui oleh medulla oblongata dengan meningens yang meliputinya, pars spinalis assendens n. Pada fraktur fossa cranii posterior darah dapat merembes ke tengkuk di bawah otot otot postvertebralis. Beberapa hari kemudian, darah ditemukan dan muncul di otot otot trigonu posterior, dekat prosesus mastoideus. Membrane mukosa atap nasofaring dapat robek, dan darah mengalir keluar.

Pada fraktur yang mengenai foramen jugularis n. Tipe dari BSF yang parah adalah jenis ring fracture, karena area ini mengelilingi foramen magnum, apertura di dasar tengkorak di mana spinal cord lewat. Ring fracture komplit biasanya segera berakibat fatal akibat cedera batang otak.

Ring fracture in komplit lebih sering dijumpai Hooper et al. Kematian biasanya terjadi seketika karena cedera batang otak disertai dengan avulsi dan laserasi dari pembuluh darah besar pada dasar tengkorak.

Fraktur basis cranii telah dikaitkan dengan berbagai mekanisme termasuk benturan dari arah mandibula atau wajah dan kubah tengkorak, atau akibat beban inersia pada kepala sering disebut cedera tipe whiplash. Terjadinya beban inersia, misalnya, ketika dada pengendara sepeda motor berhenti secara mendadak akibat mengalami benturan dengan sebuah objek misalnya pagar. Kepala kemudian secara tiba tiba mengalami percepatan gerakan namun pada area medulla oblongata mengalami tahanan oleh foramen magnum, beban inersia tersebut kemudian meyebabkan ring fracture.

Ring fracture juga dapat terjadi akibat ruda paksa pada benturan tipe vertikal, arah benturan dari inferior diteruskan ke superior daya kompresi atau ruda paksa dari arah superior kemudian diteruskan ke arah occiput atau mandibula.

Huelke et al. Kasus benturan pada area kubah non-kranial, yang disajikan dalam berbagai jenis kecelakaan kendaraan bermotor, telah didokumentasikan.

Para peneliti menemukan fraktur basis cranii juga bisa disebabkan oleh benturan pada area wajah saja. Pada studi eksperimen berdasarkan pengujian mayat, Gott et al. Terdapat 22 BSF pada grup ini. Penyebab dari kasus tersebut disebabkan oleh ruda paksa pada area frontal 5 kasus , daerah Temporo-parietal tengkorak 1 kasus , seluruh wajah 2 kasus dan berbagai jenis ruda paksa kepala lainnya 14 kasus. Saat memeriksa respon leher akibat beban daya regang aksia, Sances et al. Beberapa peneliti mengamati complex kepala-leher terhadap ruda paksa dari arah superior-inferior.

Secara umum, menunjukkan bahwa lokasi skull fraktur hasil dari ruda paksa langsung. Ketika area kepala terlindungi, leher menjadi wilayah yang paling rentan terhadap cedera pada tingkat kekuatan di atas 4 kN Alem et al Para peneliti menguji 19 cadaver dalam posisi supine dan hanya mampu menghasilkan BSF tunggal.

Hopper et al. Pada studi awal, cedera yang dapat ditoleransi oleh mandibula ketika mengalami ruda paksa adalah pada area pertengahan simfisis atau area mentalis dagu. Enam dampak yang dinamis dengan jalur vertikal pada satu tes dilakukan dengan menggunakan uji quasi-static. Suatu ruda paksa yang bervariasi diberikan untuk menilai pengaruh yang terjadi. Pada setiap tes, dijumpai fraktur mandibula secara klinis namun tidak menghasilkan fraktur basis cranii.

Studi kedua menilai toleransi fraktur basis cranii ketika beban langsung diberikan kearah Temporo-mandibula joint yang secara tidak langsung menghasilkan pembebanan secara lokal sekitar foramen magnum.

Kekuatan puncak dan energi untuk setiap kegagalan ditentukan dalam setiap pengujian. Cedera dihasilkan dengan cara ini konsisten dengan pengamatan klinis fraktur basis cranii. Peneliti menyimpulkan bahwa hasil penelitian ini mendukung hipotesis bahwa ruda paksa pada mandibula saja biasanya hanya menyebabkan fraktur mandibula. Terdapat 3 suptipe dari fraktur temporal berupa longitudinal, transversal dan mixed9.

Tipe transversal dari fraktur temporal dan type longitudinal fraktur temporal ditunjukkan di bawah ini lihat gambar 3. Gambar 3. A Transverse temporal bone fracture and B Longitudinal temporal bone fracture courtesy of Adam Flanders, MD, Thomas Jefferson University, Philadelphia, Pennsylvania Fraktur longitudinal terjadi pada regio temporoparietal dan melibatkan bagian squamousa pada os temporal, dinding superior dari canalis acusticus externus dan tegmen timpani.

Tipe fraktur ini dapat berjalan dari salah satu bagian anterior atau posterior menuju cochlea dan labyrinthine capsule, berakhir pada fossa cranii media dekat foramen spinosum atau pada mastoid air cells.

Fraktur mixed memiliki unsur unsur dari kedua fraktur longitudinal dan transversal. Namun sistem lain untuk klasifikasi fraktur os temporal telah diusulkan. Sistem ini membagi fraktur os temporal kedalam petrous fraktur dan nonpetrous fraktur, yang terakhir termasuk fraktur yang melibatkan mastoid air cells. Fraktur tersebut tidak disertai dengan deficit nervus cranialis.

Pemeriksaan Lanjutan Studi Imaging o Radiografi: Pada tahun , foto x-ray tulang tengkorak merujukan pada kriteria panel memutuskan bahwa skull film kurang optimal dalam menvisualisasikan fraktur basis cranii. Foto x-ray skull tidak bermanfaat bila tersedianya CT scan.

Slice tipis bone window hingga ukuran ,5 mm, dengan potongan sagital, bermanfaat dalam menilai skull fraktur. CT scan Helical sangat membantu dalam menvisualisasikan fraktur condylar occipital, biasanya 3-dimensi tidak diperlukan. Cedera pada tulang jauh lebih baik divisualisasikan dengan menggunakan CT scan4. Kebocoran dari CSF juga dapat dibuktikan dengan menganalisa kadar glukosa dan dengan mengukur transferring. Terapi medis Pasien dewasa dengan simple fraktur linear tanpa disertai kelainan struktural neurologis tidak memerlukan intervensi apapun bahkan pasien dapat dipulangkan untuk berobat jalan dan kembali jika muncul gejala.

Sementara itu, Pada Bayi dengan simple fraktur linier harus dilakukan pengamatan secara terus menerus tanpa memandang status neurologis. Status neurologis pasien dengan fraktur basis cranii tipe linier biasanya ditatalaksana secara conservative, tanpa antibiotik.

Fraktur os temporal juga dikelola secara konservatif, jika disertai rupture membrane timpani biasanya akan sembuh sendiri. Simple fraktur depress dengan tidak terdapat kerusakan struktural pada neurologis pada bayi ditatalaksana dengan penuh harapan.

Menyembuhkan fraktur depress dengan baik membutuhkan waktu, tanpa dilakukan elevasi dari fraktur depress. Open fraktur, jika terkontaminasi, mungkin memerlukan antibiotik disamping tetanus toksoid. Sulfisoxazole direkomendasikan pada kasus ini. Fraktur condylar tipe I dan II os occipital ditatalaksana secara konservatif dengan stabilisasi leher dengan menggunakan collar atau traksi halo. Peran antibiotik pada profilaksis fraktur basis cranii Pemberian antibiotic sebagai terapi profilaksis pada fraktur basis cranii dengan pertimbangan terjadinya kebocoran dari lapisan meningeal akan menyebabkan mikroorganisme pathogen dari saluran nafas atas hidung dan telinga dapat mencapai otak dan selaput mengingeal, hal ini masih menjadi controversial.

Pemberian antibiotic profilaksis berkontribusi terhadap terjadinya peningkatan resistensi antibiotic dan akan menyebabkan infeksi yang serius Terapi Bedah Peran operasi terbatas dalam pengelolaan skull fraktur. Bayi dan anak-anak dengan open fraktur depress memerlukan intervensi bedah.

Kebanyakan ahli bedah lebih suka untuk mengevaluasi fraktur depress jika segmen depress lebih dari 5 mm di bawah inner table dari adjacent bone. Indikasi untuk elevasi segera adalah fraktur yang terkontaminasi, dural tear dengan pneumocephalus, dan hematom yang mendasarinya. Kadang kadang, craniectomy dekompressi dilakukan jika otak mengalami kerusaksan dan pembengkakan akibat edema. Dalam hal ini, cranioplasty dilakukan dikemudian hari.

HW 6915 MANUAL PDF

Menu utama

Gambar : Klasifikasi fraktur tulang tengkorak [dikutip: Qureshi, ] Gejala Tanda adalah ekimosis dari proses mastoid tulang temporal. Slice tipis bone window hingga ukuran 1 — 1,5 mm, dengan potongan sagital, bermanfaat dalam menilai skull fraktur. CT Scan helical sangat membantu dalam menvisualisasikan fraktur condylar occipital, biasanya 3-dimensi tidak diperlukan. Cedera pada tulang jauh lebih baik divisualisasikan dengan menggunakan CT Scan. Bayi dengan fraktur linear sederhana harus dirawat untuk observasi semalam tanpa memandang status neurologis. Pasien neurologis utuh dengan fraktur linear basilar juga diperlakukan secara konservatif, tanpa antibiotik Patah tulang temporal secara konservatif, setidaknya pada awalnya, karena membrane timpani pecah biasanya sembuh sendiri.

FT2955 DATASHEET PDF

Posted by NEO-PADEMEN Labels: Cedera kepala Pada saat perawat praktek di ruang bedah saraf, akan melihat pasien pada bagian kedua matanya terdapat lingkaran hitam atau disebut raccoon eyes atau pandabear , kata raccoon diambil dari nama binatang yang mempunyai lingkaran hitam di kedua belah matanya. Raccoon sign merupakan salah satu tanda dari fraktur dasar tengkorak Basis cranii. Selain tanda tersebut masih ada tanda — tanda lain yang merupakan petunjuk dari fraktur dasar tengkorak, tanda tersebut tidak selalu terdapat bersamaan tergantung lokasi terkenanya. Perawat perlu mengenal tanda — tanda tersebut karena fraktur dasar tengkorak sulit dideteksi dengan foto rotgen kepala. Kalau perawat tidak mengetahui tanda — tanda tersebut pada saat melakukan pengkajian fisik tidak menutup kemungkinan terjadi kekurang hati — hatian sehingga data yang didapat tidak mencerminkan dari fraktur dasar tengkorakOleh karena itu perawat perlu memahami tanda — tanda dari fraktur dasar tengkorak. Tanda — tanda dari fraktur dasar tengkorak adalah : - Otorrhea atau keluarnya cairan otak melalui telinga menunjukan terjadi fraktur pada petrous pyramid yang merusak kanal auditory eksternal dan merobek membrane timpani mengakibatkan bocornya cairan otak atau darah terkumpul disamping membrane timpani tidak robek - Battle Sign warna kehitaman di belakang telinga : Fraktur meluas ke posterior dan merusak sinus sigmoid. Selain tanda diatas fraktur basal juga diindikasikan dengan tanda — tanda kerusakan saraf cranial.

JAMES CHURCHWARD KAYP KTA MU PDF

Gambar 1. Fossa pada Basis Cranii3. Dilateral terdapat pars squamous pars os temporal2. Fissura orbitalis superior, yang merupakan celah antara ala mayor dan minor os sphenoidalis dilalui oleh n. Dasar fossa cranii posterior dibentuk oleh pars basilaris, condylaris, dan squamosa os occipital dan pars mastoiddeus os temporal. Pada fraktur yang mengenai foramen jugularis n. IX, X dan XI dapat cedera1,2.

CHEMICKAL MARRIAGE PDF

Berisi tentang info singkat kesehatan yang mungkin bermanfaat bagi kita semua Pendahuluan Cedera kepala adalah penyebab utama kematian, dan kecacatan. Manfaat dari kepala, termasuk tengkorak dan wajah adalah untuk melindungi otak terhadap cedera. Selain perlindungan oleh tulang, otak juga tertutup lapisan keras yang disebut meninges fibrosa dan terdapat cairan yang disebut cerebrospinal fuild CSF.

Related Articles